Abah Atang Sesepuh Desa Sukalaksana

shares

Jika bicara pengalaman dan ilmu serta kenangan pastilah sangat banyak jika kita bekerja di ranah wisata, seperti yang kami para Tour Leader rasakan, seakan tak pernah ada ujung dan ada habisnya jika kita bicara setiap pengalaman, seperti halnya saat Kami sebagai Tour Leader ikut berhome stay ria, dan kami mendapatkan rumah warga yang di isi oleh 2 orng tua yng masih sangat bugar meski usia mereka hampir 90 tahun, dan berjam-jam Abah bercerita kepada kami saat penjajahan hingga massa DI/TII, pada dasarnya begitu mencekam suasana pada masa itu, jangankan berfikir tentang makan dan harta, untuk hari besok apakah masih hidup saja mereka masih ragu, para wanita terus sembunyi, lari dan berpindah-pindah, sedangka para lelaki di tuntut agar bisa perang dan mau tak mau akan mengalami dan ikut ke dalam peperangan.


Abah Atang, Beliau adalah salah satu sesepuh di Desa Sukalaksana, di usianya yang hampir 90 tahun beliau masih ingat jelas kejadiaan saat zaman penjajahan Belanda, Jepang dan pada zaman DI/TII,yang paling bikin saya terenyuh saat Abah Atang berkata dengan nada sedikit tegas "Alah ujang suganteh moal kieu zaman teh, komo dugi aya wisata mah, da baheula mah perang we jeung lulumpatan, hirup kakurung ku kasieun, teu raos perang teh, tos ka raosan ku abah ti 1934 dugi ka 1957" yang dalam bahas indonesia "aduh dek kirain zaman tidak akan seperti ini, apalagi sampai ada  wisata, karena dulu hanya perang dan berlarian, hidup terkurung rasa takut, perang itu tidak enak, sudah abah rasakan dari 1934 sampai 1957"


Abah Atang pernah mengalami kerja paksa pada zaman Jepang atau lebih terkenal dengan sebutan Romusa, Beliau di pekerjakan di Hotel Kamojang yang di buat Belanda dan di rampas Jepang, Abah pun menjadi tukang cuci piring di Hotel Kamojang dengan sistem Romusa selama beberapa bulan "dijajah Jepang mah sakeudap mung 3,5 Taun tapi, nembe 2,6 Taun ge ancur sagalana, dugi acuk ge tina kulit domba" artinya : di jajah jepang memang sebentar, cuman 3,5 Tahun tapi, baru 2,6 Tahun juga sudah hancur segalanya, sampai baju saja dari kulit domba. kekesalan Abah terhadap Jepang sangat terasa, karena begitu menggebu-gebunya Abah jika bicara segala sesuatu tentang Jepang, dari mulai kedatangan, peperangan hingga kepergian Jepang setelah Hirosima dan Nagasaki di Bomb Atom oleh Amerika.



Hebatnya ingatan si Abah tak cukup hanya di situ, pada malam hari saya sendirian nonton film Rambo dan si Abah pun ikut gabung, dengan cepat Abah menjelaskan Setiap Senjata yang ada di film tersebut, dari mulai jenis senjata, jumlah maksimal peluru hingga jarak tembaknya, saya pun angkat topi mungkin di zaman sekarang sudah sulit di temukan orang dengan usia setua itu namun ingatannya masih sangat berfungsi. Abah Atang pernah sekolah 2 kali pada zaman Belanda satu kali dengan waktu 7 bulan karena Belanda yang ada di Garut di Perangi Jepang dan akhirnya meninggalkan Garut dan kedudukannya di gantikan Jepang, dan Abah pun ikut dalam pendidikan Jepang, dengan lancarnya abah menyanyikan lagu penyemangat yang berbahasa jepang, juga teriakan Khas Jepang saat baris berbaris.


Sehat terus Abah Atang dan keluarganya, maaf kami akan merepotkan Abah sampai 7 hari kedepan dan terimakasih atas segala jamuan dan wejangan hingga sejarah peperang di Garut moga jadi amal bagi Abah karena memberi cahaya ilmu atas ke tidak tahuan kami,  

lokasi desa wisata ciburial


video HdG Team Creative

 
INGAT GARUT,,,!!! INGAT HDG

Related Posts

0 comments:

Post a Comment